Berita Chelsea – Siapa Manajer Sebenarnya Chelsea, Maurizio Sarri Atau Kepa Arrizabalaga?
Tak lama setelah partai final Piala Liga Inggris antara Chelsea dan Manchester City, Minggu (24/2), status Kepa Arrizabalaga di laman Wikipedia tiba-tiba berubah. Tertulis, dia sekarang berposisi sebagai manajer The Blues.
Tentu ini bentuk guyon dari para fans Chelsea sekaligus ekspresi rasa kesal mereka ketika melihat sang kiper enggan diganti saat babak extra-time tersisa dua menit lagi. Dua kali Kepa mendapat penanganan medis karena diduga mengalami masalah pada hamstring.
Manajer Maurizio Sarri seketika menyadari sang kiper mesti diganti. Dia pun mempersiapkan Willy Caballero di pinggir lapangan. Saat hendak diganti, Kepa ngeyel. Bak seorang manajer, dia mengangkat tangan ke arah Sarri, memberi isyarat dirinya tidak perlu digeser dan bisa mengatasi problemnya sendiri. Kewenangan Sarri seolah tak nampak, dia manut diperintah Kepa untuk tidak menggantinya walau akhirnya meluapkan rasa frustrasinya dengan meninggalkan bench.
Pilihan Editor
Just checked @kepa_46 Wikipedia page right now pic.twitter.com/bPXCMHBKWo
M (@Masoud234) February 24, 2019
Kepa’s Wikipedia has already been edited pic.twitter.com/zETs2gCo0d
SPORTbible (@sportbible) February 24, 2019
Padahal Caballero sudah teruji dalam menghadapi adu penalti – pernah membendung tiga penendang Liverpool saat memainkan final Piala Liga 2016 saat masih berseragam City.
Walhasil, Chelsea tak maksimal menghadapi adu penalti. Hanya sekali Kepa berhasil meredam sepakan Leroy Sane, tetapi empat lainnya bersarang ke gawangnya. Terakhir, sepakan Raheem Sterling menentukan kemenangan 4-3 The Citizens. Pasukan Pep Guardiola pun berhasil mempertahankan titel Piala Liga, yang musim lalu juga sukses diraihnya.
Saya pikir [Sarri] di posisi sulit, saya terkejut dia [Caballero] tidak masuk dan memaksanya [Kepa] keluar, ungkap Terry kepada Sky Sports.
Jika saya pelatih di sana, Anda pergi. Ini mencoreng penampilan yang benar-benar bagus. Jika nomor Anda terlihat [di papan pergantian pemain], Anda harus keluar. Ini berat dan sulit untuk pemain, pelatih telah membuat keputusan dan Anda harus keluar. Sulit untuk pemain keluar dan memaksanya keluar, apakah ini tugas dan tanggung jawab mereka? Mungkin tidak. Ini tanggung jawab pemain untuk keluar dan menerimanya dan menghadapinya besok.”
Sarri tak lama membela diri. Seolah tak ingin kehilangan wibawa sebagai pelatih, dia menegaskan bahwa insiden pembangkangan Kepa ini murni karena kesalahpahaman, bukan karena dia segan dengan anak didiknya sendiri.
Kepa adalah pemain yang diboyong dan dipilih oleh Sarri sendiri ketika mulai menjabat sebagai manajer Chelsea. Tak tanggung-tanggung, untuk mengangkutnya, Sarri mesti melepas mahar mencapai 70 juta.
“Saya kira kami harusnya bicara mengenai sisi sepakbola, karena kami bermain sangat bagus. Itu (penolakan Kepa untuk diganti) adalah kesalahpahaman. Saya mendengar ada masalah dan kami perlu mengganti. Saya baru mengetahui ketika dokter kembali ke bench setelah beberapa menit,” ujar Sarri selepas pertandingan memberikan klarifikasi.
“Ini kesalahpahaman. Saya memahami si kiper mengalami keram dan mungkin tidak akan bisa memainkan adu penalti. Seperti yang saya bilang, saya meminta pergantian karena ada problem fisik, tapi dikatakan bahwa dia baik-baik saja. Jadi saya pikir dia benar.”
Jauh sebelum pertandingan ini, terungkap rahasia di balik seringnya Chelsea bergonta-ganti manajer. Salah satu sebab utamanya adalah dari para pemain Chelsea itu sendiri, entah yang membangkang atau memang yang memiliki rencana terselubung untuk menyingkirkan pelatih yang mereka anggap tidak sesuai dengan kehendak mereka.
Hal ini sebagaimana diungkapkan Alex, mantan bek Chelsea. Dijelaskannya, para penggawa bisa menjadi ‘racun’ bagi setiap pelatih The Blues.
“Selama saya di sana, ya,” jawab Alex secara eksklusif kepada Goal, ketika ditanya apakah para pemain Chelsea bak ‘racun’ bagi setiap pelatih yang pernah menjabat di sana.
“Saya tidak berbicara masa sekarang, sebab saya tidak lagi berada di sana. Namun, saya bicara saat saya berkarier di sana. Saya melihat ada banyak kebingungan dengan masalah satu ini. Ada banyak pemain yang berharap segala sesuatunya tidak berakhir baik bagi manajer dan dia [para pelatih yang pernah menangani Chelsea] akhirnya angkat kaki.”
Sarri, bisa mengaku-ngaku bahagia bekarier di Chelsea sebagaimana yang dituturkannya dalam konferensi pers pascalaga kontra City. Tetapi para pemangku kuasa di Chelsea, terutama sang bos besar Roman Abramovich, boleh jadi saat ini tengah mengernyitkan dahi.
Persembahan gelar Piala Liga sejatinya bisa meredakan gejolak di pundak Sarri atau bahkan menyelamatkan kariernya di Stamford Bridge. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Boleh jadi ketidaktegasannya mengganti Kepa dengan Caballero jadi faktor utama tumbangnya Chelsea dalam adu tos-tosan dengan City.
Sekarang loyalis Chelsea mungkin akan bertanya-tanya, jika sang manajer tak mampu menerapkan otoritasnya sebagai bos bagi para pemain, lantas siapa manajer sesungguhnya Chelsea?
Maka hipotesa Alex yang menilai adanya ‘racun’ di ruang ganti Chelsea barangkali benar adanya.
Artikel dilanjutkan di bawah ini View this post on Instagram
Manchester City keluar sebagai kampiun Piala Liga berkat kemenangan 4-3 dalam drama adu penalti melawan Chelsea setelah menuntaskan 90 menit plus extra-time dengan skor kacamata. Raheem Sterling menjadi eksekutor penentu kemenangan bagi City dengan tembakannya memasitkan timnya menang 4-3. Dua penendang Chelsea gagal menjalankan tugasnya, yakni Jorginho dan David Luiz, sementara City hanya sekali gagal via sepakan Sane. #MatchdayGoal #PialaLiga #EFLCup #Chelsea #ManCity